Home Teknologi Menag: Teknologi Tanpa Spiritualitas Bisa Kehilangan Arah

Menag: Teknologi Tanpa Spiritualitas Bisa Kehilangan Arah

36
0
SHARE
Menag: Teknologi Tanpa Spiritualitas Bisa Kehilangan Arah

Keterangan Gambar : Dok/Kemenag

Bangli — Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya integrasi antara nilai-nilai spiritual dengan perkembangan sains dan teknologi dalam dunia pendidikan tinggi. Hal ini disampaikan saat menghadiri Pembinaan Pegawai dan peresmian Fakultas Sains dan Teknologi di Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa, Senin (23/3/2026).

Menurut Menag, kemajuan teknologi tidak boleh berjalan tanpa arah. Ia mengingatkan bahwa penguatan dimensi spiritual harus menjadi fondasi agar perkembangan ilmu pengetahuan tetap memberikan manfaat bagi kemanusiaan.

“Jangan sampai kita maju secara teknologi, tetapi kehilangan arah secara spiritual. Teknologi harus dipandu oleh nilai-nilai agama agar tetap memanusiakan manusia,” ujarnya.

Menag juga menyoroti urgensi penguatan pendidikan berbasis sains dan teknologi yang selaras dengan nilai keagamaan. Ia berharap perguruan tinggi mampu melahirkan generasi yang unggul secara intelektual sekaligus matang secara spiritual.

“Ilmu tanpa agama kehilangan arah, sementara agama tanpa ilmu kehilangan relevansi. Keduanya harus berjalan beriringan,” ungkapnya.

Selain itu, Menag menekankan bahwa penguatan kerukunan umat beragama tidak cukup dilakukan melalui forum seremonial semata. Ia mendorong dialog lintas agama yang lebih produktif dan mampu melahirkan pemahaman serta kebijaksanaan.

“Kita harus menghadirkan dialog yang berdampak, bukan sekadar pertemuan formal. Dialog harus melahirkan hikmah yang berakar pada nilai lokal dan berwawasan global,” tegasnya.

Ia menambahkan, moderasi beragama menjadi kunci dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman. Moderasi, menurutnya, bukan berarti mengurangi ajaran agama, melainkan mengelola cara beragama agar tetap berada di jalan tengah.

“Agama itu sudah sempurna. Yang perlu dimoderasi adalah cara kita beragama. Moderasi adalah upaya menjaga keseimbangan, menghargai perbedaan tanpa memaksakan keseragaman,” jelasnya.

Menag juga mengingatkan pentingnya menghindari dua kutub ekstrem dalam kehidupan beragama, yakni pemaksaan keseragaman yang dapat memicu radikalisme, serta kebebasan tanpa batas yang berpotensi melahirkan sikap liberal berlebihan.

“Indonesia tidak dibangun di atas ekstremitas. Kita menjaga keseimbangan melalui nilai toleransi, komitmen kebangsaan, anti-kekerasan, dan penghormatan terhadap tradisi,” ujarnya.

Peresmian Fakultas Sains dan Teknologi di kampus tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita oleh Menag, didampingi pimpinan kampus serta tokoh yang hadir. Fakultas ini diharapkan menjadi pusat pengembangan inovasi yang tetap berakar pada nilai budaya dan spiritualitas.

Menutup arahannya, Menag berpesan kepada mahasiswa untuk terus mengembangkan kapasitas diri sekaligus menjaga integritas dan nilai moral.

“Kalian adalah pemimpin masa depan. Kuasai ilmu pengetahuan, berinovasilah, tetapi tetap pegang teguh nilai-nilai spiritual,” pesannya.

Melalui momentum ini, Kementerian Agama berharap terbangun sinergi antara penguatan kerukunan umat beragama dan kemajuan ilmu pengetahuan guna mendorong pembangunan bangsa yang inklusif dan berkelanjutan.

Iklan Sidebar Kiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here