Home Nasional Sekolah Rakyat Harus Aman 24 Jam, Gus Ipul: Tidak Ada Kompromi

Sekolah Rakyat Harus Aman 24 Jam, Gus Ipul: Tidak Ada Kompromi

34
0
SHARE
Sekolah Rakyat Harus Aman 24 Jam, Gus Ipul: Tidak Ada Kompromi

Keterangan Gambar : Dok/Kemensos

JAKARTA – Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan pentingnya pengawasan terhadap seluruh peserta didik Sekolah Rakyat yang menerapkan konsep pendidikan berasrama atau boarding school.

Menurut Gus Ipul, karakter Sekolah Rakyat yang mengharuskan siswa tinggal di asrama membuat pengawasan terhadap kondisi dan aktivitas mereka harus dilakukan secara penuh selama 24 jam.

Pesan tersebut disampaikan Gus Ipul saat menggelar Rapat Koordinasi bersama Kepala Sekolah Rakyat se-Indonesia melalui Zoom, Rabu (2/9/2026).

“Yang pertama yang ingin jadi perhatian kita bersama adalah soal pengawasan. Karena ini boarding school, maka anak-anak harus terawasi selama 24 jam, tanpa kompromi,” tegas Gus Ipul.

Ia mengatakan, pengawasan tersebut menjadi bagian penting untuk mencegah berbagai persoalan di lingkungan sekolah, seperti perundungan (bullying), kekerasan seksual, hingga intoleransi.

Untuk memperkuat pengawasan, Gus Ipul mendorong kepala sekolah melibatkan wali asuh dan wali asrama serta memanfaatkan fasilitas CCTV yang tersedia di lingkungan Sekolah Rakyat.

Selain pengawasan, Gus Ipul menekankan dua pilar lainnya yang harus menjadi perhatian kepala sekolah, yakni kepatuhan dan kolaborasi.

Dalam aspek kepatuhan, kepala sekolah diminta menjalankan seluruh prosedur dan tata kelola secara baik, termasuk pengelolaan keuangan yang bebas dari korupsi dan konflik kepentingan. Standar pembelajaran dan pengelolaan asrama juga harus diterapkan secara setara di seluruh Sekolah Rakyat.

Sementara dalam hal kolaborasi, kepala sekolah diminta membangun hubungan yang baik dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari masyarakat sekitar, pemerintah daerah, hingga guru tamu.

“Sekolah Rakyat berjalan karena kita bergerak bersama. Guru tamu dilibatkan aktif, bukan pelengkap,” ujar Gus Ipul.

Ia juga meminta pemerintah daerah dilibatkan dalam pengawasan serta diperkuat dukungannya, terutama dalam aspek keamanan, kebersihan, dan penanganan kasus.

“Intinya adalah pada pengawasan, kepatuhan, dan kolaborasi. Tiga pilar ini tidak bisa ditawar. Setiap anak berhak pulang dengan masa depan yang lebih baik,” tegasnya.

Kepala Sekolah Diminta Laporkan Kondisi Siswa

Lebih lanjut, Gus Ipul meminta seluruh kepala sekolah mulai bulan depan membuat laporan mengenai kondisi masing-masing peserta didik.

Laporan tersebut mencakup kondisi kesehatan, perkembangan mental, hingga latar belakang para siswa.

Gus Ipul memberikan waktu sekitar satu hingga tiga bulan bagi para kepala sekolah untuk beradaptasi dengan peserta didik maupun lingkungan baru sebelum pelaksanaan program berjalan secara optimal.

“Saya masih memberikan satu kesempatan selama satu sampai tiga bulan kepada para kepala sekolah ini untuk beradaptasi, untuk menyesuaikan diri dengan siswa yang baru, dengan lingkungan yang baru. Setelah itu kita harus take off,” katanya.

Sekolah Rakyat di Tengah Karhutla Tetap Lindungi Siswa

Dalam rapat tersebut, Gus Ipul juga menyoroti kondisi Sekolah Rakyat yang berada di sekitar lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, salah satunya pembangunan gedung permanen SRT 1 Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Ia meminta pihak sekolah terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan keselamatan para siswa.

Kepala SRT 1 Kotawaringin Timur Nikkon Bhastari mengatakan, meski sekolah terdampak asap karhutla karena lokasinya berdekatan dengan titik kebakaran, pihaknya memilih tidak memulangkan siswa ke rumah masing-masing.

Menurut Nikkon, lingkungan sekolah dinilai lebih aman karena memiliki akses lebih dekat dengan fasilitas kesehatan dan dilengkapi sejumlah peralatan penanganan kesehatan.

“Untuk anak-anak dikondisikan tidak kami pulangkan karena lebih berbahaya ketika pulang daripada di SR. Kalau di SR dekat dengan puskesmas, dekat dengan rumah sakit, fasilitas kami lengkap,” jelas Nikkon.

Ia menambahkan, kegiatan belajar mengajar tetap dilakukan dengan menyesuaikan kondisi. Jika ruang kelas terdampak asap, proses pembelajaran dialihkan ke asrama dengan pendampingan para guru.

“Tetap kami melakukan pembelajaran. Dimulai dari pukul 8 sampai pukul 9 pagi. Namun ketika kabut, maka kegiatan pembelajaran dilakukan di asrama dibantu oleh guru-guru,” pungkasnya.

Iklan Sidebar Kiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here