Home Opini KITA ADALAH DEBU, DI BAWAH KAKI MUHAMMAD SANG NABI

KITA ADALAH DEBU, DI BAWAH KAKI MUHAMMAD SANG NABI

43
0
SHARE
KITA ADALAH DEBU,  DI BAWAH KAKI MUHAMMAD SANG NABI

Keterangan Gambar : Dino Brasco

Oleh: Dinno Brasco
(Cand. Magister Universitas Paramadina 
& Pengurus Pusat GP ANSOR)


“Kali ini juga, saat kekacauan
dan kekhawatiran melanda semua manusia,
mereka kembali kepada kenangan
tentang kehidupan Rasulullah Saw”
_ SIBEL ERASLAN, Novelis Turki

Di setiap tarikan nafas dan langkah kaki
Tak ada dambaan yang lebih sempurna lagi,
Di ufuk jauh kerinduan hamba;
Muhammad berdiri
---SYAIR EMHA AINUN NADJIB
MUHAMMADKAN HAMBA YA RABBI
______

MUKADIMAH

Hanya kepada Allah kita memuja dan memuji, bukan yang lain. Allah kita yang merendahkan dan menghinakan orang-orang yang congkak, jahat dan bengis. Allah-lah yang telah meruntuhkan tahta imperium Fir’aun dan para kaisar, raja yang sombong dan congkak. 
Allah kita Sang raja diraja, penguasa alam semesta raya yang meninggikan langit tanpa tiang, yang menghamparkan bumi tanpa menggantungkan. Yang memberi warna-warni kehidupan beragam dan penuh pelangi di bumi pertiwi, bumi para wali dan Kiai.

Mohon izin, srupuut dulu kopinya!
Terkenang dulu, pernah satu masa pernah membaca sebuah buku keren. Tapi bukan buku berjudul Islam ala Prabowo. Melainkan berjudul Langit-Langit Desa karya Muhammad Zuhri. Luar biasa keren guys, berisi cerita dan kisah salah satunya tentang seorang mahasiswa yang hobinya melantunkan shalawat Sang Nabi.  Mungkin mahasiswa itu mewakili kita semua di penjuru Indonesia. Katakanlah sebagai nostalgia!. Apalagi buku tersebut, entah kemana raibnya. Lupa dibawa siapa, jadinya hanya yang diinget sampai detik ini dialognya. Sekali lagi, itu buku mantapp. 
Alkisah, seorang mahasiswa yang mengamalkan shalawat Muhammad Sang Nabi seribu kali dalam sehari didatangi oleh sahabat kuliahnya saat ia tengah melakukan riyadhah-nya. Menyaksikan peristiwa itu, sahabatnya berucap,“Setiap Rasul telah dijamin masuk taman surga. Sama saja you lantunkan shalawat atau tidak kepadanya bro!”
“You salah paham. Saya membaca shalawat bukan untuk Rasul, melainkan untuk diri saya sendiri,” jawab mahasiswa itu.
“Kok bisa demikian?” tanya sahabatnya.
“Ketika saya membaca shalawat, saya ingat dua hal yang sangat penting artinya di dalam ‘proses menjadi’ diri saya,” jawab mahasiswa.
“Jika begitu apa hubungannya dengan dirimu bro!” desak sahabatnya.
“Ya sudah jelas Mas bro, saya ingin menjadi seperti Nabi Muhammad Saw di dalam menggapai tujuannya!” jawab mahasiswa dengan kalem.
Sebuah kisah yang inspiring, buat kita semua, milenial dan gen-Z. Mahasiswa itu, sekali lagi adalah perihal kita semua, pecinta Sang Nabi. Bagaimana kita menggapai tujuan hidup seperti yang diajarkan Muhammad Sang Nabi di tengah turbulensi zaman kekinian.

MENGGAPAI MATAHARI
Hidup adalah akidah dan cinta. Akidah beriman kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw sebagai penutup para Nabi dan pemuncak kebaikan, penghubung langit dengan bumi dan dunia dengan akhirat. Sederhana dalam keagungan dan ramah dalam kewibawaan, berakhak mulia.  
Jika melihatnya, kita pasti jatuh cinta kepadanya. Dan apabila bergaul, kita pasti merasa nyaman bersamanya. Argumentasinya al-Quran, kiblatnya Ka’bah, agamanya agama yang lurus, agama cinta bagi seluruh manusia. Namun, apakah kita pernah memandang paras wajahnya?
Beliau dibangkitkan untuk melepaskan rantai-rantai yang membelenggu pikiran dan jiwa manusia. Bergerak untuk menghancurkan patung-patung dan berhala-berhala cinta dunia dalam jiwa manusia seperti kita. Diutus sebagai anugerah bagi alam semesta serta sebagai keluh kesah bagi mafia kesesatan. 
Beliau bertutur kepada telinga-telinga manusia di dunia, maka pilar-pilar kezaliman runtuh karena suara merdunya. Dan bangunan-bangunan kelaliman roboh karena jejak kebaikannya. 
Beruntunglah yang sezaman dan pernah bersamanya di Mekkah dan Madinah. Beliau memilih zuhud setelah deklarasi kenabian, berhias dengan kesabaran, tahan ujian, memperkuat jiwa atas bantingan kebengisan zaman. Dengan sejarah hidupnya, beliau jelaskan betapa kecil dan sepelenya dunia ini. Lalu, beliau hidup dalam kekayaan, maka beliau bersyukur kepada Sang pemberi nikmat dan mengasihi  semua makhluk. Hidupnya penuh empati dan senantiasa bersujud, berdo’a untuk umatnya. Ummati !
Kanjeng Nabi mengajarkan manusia pasal-pasal kedermawanan hati dan legenda-legenda kemurahan jiwa. Beliau tebar jaring keramahan, sehingga beliau pun menjadi orang yang lebih lembut daripada angin semilir. Lebih halus daripada kain sutra, dan lebih segar daripada hujan gerimis.  Semua itu membuat hati manusia pun berthawaf di Ka’bah keagungannya dan jiwa-jiwa mereka bersa’i di Shafa-Marwa kemuliaannya. Kanjeng Nabi bertempur demi membasmi akar-akar kerusakan, merobohkan benteng-benteng kesesatan, menghancurkan kebatilan, dan mengubur pembangkangan terhadap Sang Mahaagung yang terlupakan, disingkirkan.
Kanjeng Nabi adalah nama yang kita cinta, pandanglah hamba. Kita cinta kepada kepadanya, bukan kepalsuan cinta. Kita semua menjalani hidup dan menjadikan sejarah hidupnya, cerita perjuangannya di hadapan mata kepala dan batin kita. Sebab, Allah Ta’ala berfirman: “Sungguh, di dalam diri Rasulullah terdapat suri tauladan  yang baik bagimu, bagi orang-orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir, serta banyak mengingat-ingat-Nya” (QS. al-Ahzab [33]: 21).
Para pujangga sering berkata di antara bukti cinta terbesar ialah kenikmatan menyebut nama orang yang kita cinta. Ketika menyebut atau mendengar orang menyebut nama kekasih kita, hati kita bergetar. Ada kenikmatan dalam mengulang-ngulang namanya, dan ingin sepertinya dalam mencapai tujuan hidup.
Kita agungkan Muhammad Sang Nabi sebagai manusia yang penuh perasaan tenang, sabar, rendah hati, lembut, dan berpikir positif terhadap huru-hara dunia. Sebuah puja-puji oleh Imam Ibrahim al-Bajuri, yang merupakan pengikat batin kita berabad-abad lamanya dengan Sang Nabi, menghubungkan sifat-sifat ini kepadanya: “Seraut paras laksana bunga lili yang lembut dan purnama yang suminar. Watak yang laksana samudra dalam kedermawanan dan ikhtiar. Yang akan tampak, karena keagungannya. 
Bahkan manakala kau menjumpainya sendirian, Memimpin sebuah pasukan, Atau rombongan besar, Seolah-olah sebuah permata dalam kulit kerang kata-kata dan senyumnya.”
Demi menggapai matahari ini, ada satu pegangan untuk kita, bahwa apa yang pernah diperbuat Muhammad Sang Nabi berlaku sama bagi semua manusia. Karena beliau diutus untuk seluruh umat manusia, bukan hanya umat Islam saja. Dibangkitkan  demi segenap alam semesta, sebagai rahmatan lil ‘alamin.

PUJIAN DAN PUJAAN HATI

Tentunya sambil sruputt ngopi membahas Kanjeng Nabi adalah perbincangan terindah yang takkan tiada habisnya. Dari berbagai dimensi dan aspeknya, utusan Allah yang terakhir ini sungguh mengandung magnet spiritualitas yang tiada tanding.  Karenanya, sepanjang zaman senantiasa lahir karya-karya pemikir yang memuja-memuji dan menggagungkannya. Adalah Annemarie Schimmel, penulis buku berjudul Dan Muhammad Utusan Allah, pernah mengatakan,“Bentuk lahiriah Ahmad datang dari Adam, namun pada hakikatnya Adam menjadi wujud dari Ahmad.”
Wajib diketahui dalam tradisi tasawuf, ada keyakinan bahwa jauh sebelum munculnya alam eksistensi, non-material ataupun material, Allah telah menjadikan al-Haqiqah al-Muhammadiyyah atau Nur Muhammad sebagai wujud kedua setelah diri-Nya, yang darinya, Nur Muhammad memancar ke yang lain mulai dari alam materi hingga alam non-materi.  
Karena kedudukannya yang dahsyat seperti ini, sampai-sampai seorang pujangga Muslim bersyair,”Mengapa manusia, malaikat, dan jin tak memujinya? Padahal Allah sendiri telah memujinya. Sebuah kebanggaan diakui ummat Muhammad Sang Nabi.” Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad, maha guru para Sufi pernah bertutur, “Allahku, tidak ada wasilah bagiku kepada-Mu, selain limpahan kasih-Mu. Tidak ada perantara kepada-Mu, kecuali curahan kasih-Mu dan Syafa’at Nabi-Mu, Nabi umat ini.”
Muhammad Sang Nabi, adalah sebuah nama terbesar di bumi manusia. Namanya berdampingan dengan nama Allah yang Maha kasih dan Maha sayang. Namanya bersandingan dengan nama Dia di Arasy yang agung. Bukankah Allah menyebutmu dengan nama-Nya, al-rauf al-rahim, yang sangat santun, rendah hati, dan sangat sayang kepada seluruh manusia.

RENDAH HATI ADALAH KUNCI

Lanjut ya ngopinya, bro and sista!
Andalan para sufi, Maulana Jalaluddin Rumi sering kali bertutur, sudah seharusnya setiap manusia menekankan kebaikan dan pentingnya kesederhanaan dalam hidup di bumi Allah. Ia berucap bahwa pohon yang menjulang tinggi ke langit, dan membanggakan dirinya hanya karena ketinggiannya, mungkin tidak berbuah. Sebaliknya, pohon yang sarat buah, batangnya melengkung ke bawah. Dan karena itu, menampakkan kemuliaannya. Pastinya, karena itu Muhammad Sang Nabi senantiasa sangat sopan dan rendah hati. Hal itu jua yang membuat beliau mengungguli Nabi-Nabi lainnya. Sang Nabi bersabda untuk kita semua di masa kini dan masa depan,“Hendaknya kamu senantiasa berhubungan dengan orang-orang dengan sopan dan rendah hati, dan hati-hatilah agar tidak ada yang dirugikan karenamu.” 
Karena itu, saat dalam sebuah serangan yang membuat satu gigi Sang Nabi tanggal, beliau hanya berdo’a kepada Allah, semoga Dia membimbing umatnya berjalan di jalan yang terang benderang, nan lurus. Sang Nabi bersabda kembali, “Mereka tidak tahu jalan yang benar.” Dan Sang Nabi tidak mengutuk mereka yang kurang ajar dan ngga sopan, sebagaimana juga kisah dalam peristiwa dakwahnya di Thaif, beliau berdarah-darah dilempari batu-batu besar dan kecil, beterbangan ke arah wajahnya. Sang Nabi malah mendo’akan, manusia yang tidak tahu kebenaran agar mereka tidak dimurkai Allah.
Beliau sangat cinta mereka dan memohon agar para pelempar batu-batu tidak celaka dalam hidupnya. Sang Nabi serius membimbing kaumnya ke jalan yang benar, dan mengampuni sendiri mereka. Bedakan dengan kita yang ngaku-ngaku umatnya kini? Apalagi di tengah pergaulan bangsa-bangsa di dunia yang penuh gejolak dan peperangan. Apalagi hidup di bawah komando Prabowo.
Sang Nabi yang pemaaf, dan rendah hati. Karena itu pernah dikisahkan, sebelum beliau, tidak ada seorang pun, yang pernah memohonkan rasa kedamaian kepada segenap umat manusia dengan sangat ikhlas selain Sang Nabi. Di titik poin yang keren ini, Jalaluddin Rumi bersyair,’Manusia tercipta dari tanah, dan jika tidak ada tanah; Dengan apa manusia akan dicipta?”
Ya, sebuah tanah. Metafor tanah adalah sesuatu yang selalu berada “di bawah” dan tentunya tidak di atas sebagaimana udara, cahaya, dan atmosfir. Tanah, adanya di posisi lebih rendah, di bawah kaki kita, terinjak-injak. Selalu tetap dalam posisi terendah, tak seperti bara api yang membumbung ke atas dengan rasa sombong dan congkak.
Ya, hanya tanah. Jadilah seperti tanah, seperti dawuh Syaikh Siti Jenar dalam kisah Majelis Wali Songo. Tanah setiap hari diinjak-injak oleh manusia, tapi menghidupi mereka. Dianggap hina-dina, tapi memakmurkan hidup mereka. Dibuang dan dicaki-maki, tapi tak pernah dendam. Bahkan, menyuburkan rezeki manusia di sepanjang masa, jadi penghidupan anak cucunya.
Pointnya adalah manusia macam kita-kita, yang tercipta dari tanah, wajib mengenang asal-usul dan mengendalikan egonya. Bukan malah merasa diri tinggi hati, mau menang sendiri. Oke? Apalagi merasa benar sendiri dengan warna-warni kesombongan. Bahkan, tak jarang kita dengan ringan berkata kafir, sesat, dan masuk neraka kepada sesama. Rendah hati ialah sifat utama Sang Nabi, yang harus juga kita miliki sebagai umatnya di era kekinian. Kerendahan hati adalah kunci, harus satu padu dalam pikiran dan tindakan.
Junjungan utama kita, Muhammad Sang Nabi disifatkan Allah Ta’ala sebagai Rasul di antara kamu yang berat hatinya melihat penderitaan, yang sangat ingin kita memperoleh kebaikan. Sang Nabi yang sangat sopan dan sangat sayang kepada kaum mukmin. Beliau melihat dengan sedih atmosfer pecah belah di bumi manusia, penderitaan, kemalangan, bencana wabah di penjuru dunia. Kenestapaan yang sering kali menghantam pecintanya. Dan perbagai prahara yang terjadi di tubuh kaum Muslimin wal Muslimat di lintas benua.
Sang Nabi telah mengajarkan kita untuk rendah hati dalam hidup sehari-hari, tak kurang tak lebih. Namun, apa yang terjadi? Apa yang kita lakukan di bumi kini? Tak lain, tak bukan, kita melakukan aksi teror, fitnah, provokasi di media sosial, berkata kasar dan keji di mana-mana, baik di rumah maupun di jalanan. 
Bahkan, tangan-tangan kita sering berbuat tidak baik, tiranik, dan zalim kepada sesama, merasa berkuasa karena kecintaan kita pada perhiasan dunia; harta, tahta, dan nama. Hanyut, asyik, dan terjebak dalam permainan dunia yang menyilaukan mata dan jiwa.

Khatimah

Alhamdulillah, Maulid Sang Nabi digelar penuh cinta di se-antero dunia dan negeri tercinta ini, di masjid, mushola dan kediaman kita. 
Kini kita juga ngaku-ngaku umat dan pecintanya. Namun sayangnya, kita tak pernah melaksanakan rendah hati ajaran mulianya. Sang Nabi ingin kita hidup bahagia menggarungi dunia dengan bahtera kapal Nabi Nuh di era abad 21, seperti maunya Slavoj Zizek, filsuf gaek dari Slovenia. Sang Nabi uga ingin kita jadi orang baik, saleh, dan salehah, berbuat empatik, ramah dan rendah hati kepada makhluk Allah. Sebagaimana akhlak Allah. 


Jangan sampai kita seperti jalannya cerita yang disampaikan Jalaluddin Rumi; semua dari kita sudah mengotori rumah Sang Nabi dengan sikap buruk dan sifat kotor. Dan Sang Nabi yang membersihkannya sendiri. Setega itukah kita sebagai pengikut dan pecintanya?
Maulid Sang Nabi adalah cahaya rembulan, sebuah kesadaran, kita takkan melakukan itu semua. Karena kita manusia, yang sudah mengenalinya, kerendahan hatinya. Cintanya kepada kita semua. Good people are helped and bad people disgraced.
Ala kulli hal, berada pada tingkat iman yang tinggi, jika kita bukan saja percaya bahwa Nabi Muhammad Saw adalah Sang Nabi yang penuh kasih dan sangat penyayang pada manusia. Namun, kita juga merasakan manisnya kasih sayangnya, perhatian, dan nikmat kehadirannya. Karena beliau menyaksikan apa yang kita amalkan sehari-hari. Sebagaimana firman-Nya: Beramallah kalian. Maka Allah akan melihat amal kamu, juga Rasulullah dan orang-orang beriman (QS. al-Taubah [9]: 105)
Cuman gini bro dan sista, kita tak bisa membayangkan, jika Sang Nabi berkunjung ke rumah kita secara personally, yang merasa pencintanya. “If the Prophet of Muhammad visited you, just for a day or two, if he came unexpectedly, I wonder what you’d do,” ucap Camile Badr dalam puisinya. 
Sang Nabi mengunjungi kita di mana pun berada di bumi manusia. Datang secara pribadi untuk menghabiskan beberapa saat bersama kita. Ya, bersama kita. Hanya saja kita tak pernah merasa, bahkan lupa. Larak-lirik yang memukau dari Sam Bimbo hangat terasa, pecah, ambyar di jiwa yang sekian lama memfosil, beku dan membeku, menyadarkan kita selamanya.

Rindu kami padamu Ya Rasul, Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu, Ya Rasul 
Serasa Dikau di sini. 
Cinta ikhlasmu pada manusia, Bagai cahaya surga. 
Dapatkah kami membalas cintamu, secara bersahaja.

Yuk anak-anak negeri bershalawatlah! 
Demi membasahi kelopak mata dan kerasnya batin kita. 
Sang sufi besar Jalaluddin Rumi berabad-abad lamanya tulus mengakui,”Aku adalah debu di atas jalan Muhammad Sang Nabi yang terpilih.”  Shollu alannabiy!

(Tulisan bersambung 3 Jilid Edisi Maulid Muhammad Sang Nabi Saw. 
Ampunn Bang Haji)

Iklan Sidebar Kiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here