
Keterangan Gambar : dok/Diskominfo Kota Depok
DEPOK – Festival Heritage Depok Lama 2026 menjadi titik awal transformasi besar kawasan Depok Lama sebagai destinasi wisata sejarah berbasis living heritage sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi kreatif baru di Kota Depok. Festival ini merupakan bagian dari program unggulan Pemerintah Kota (Pemkot) Depok dalam merevitalisasi kawasan bersejarah agar kembali hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ketua Panitia Festival Heritage Depok Lama 2026 yang juga anggota Tim Percepatan Pembangunan Prioritas Daerah (TP3D) Kota Depok, Ratu Ratna Damayanti, mengatakan penyelenggaraan festival menjadi langkah strategis untuk menghidupkan kawasan sebelum proses revitalisasi fisik berjalan secara menyeluruh.
"Festival ini adalah langkah awal untuk memperkuat realisasi program revitalisasi Depok Lama. Sebelum pembangunan infrastruktur berjalan penuh, kita mulai dengan menghidupkan kawasan ini melalui kegiatan kreatif," ujar Ratu Ratna Damayanti, Sabtu (27/6/2026).
Menurutnya, penataan kawasan telah dimulai melalui pembangunan jalur pedestrian. Namun, revitalisasi tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, melainkan juga harus diiringi dengan aktivitas budaya yang melibatkan masyarakat secara aktif.
"Setelah pedestrian mulai dieksekusi, kita hidupkan kawasan ini dengan berbagai kegiatan. Kita dorong partisipasi masyarakat, khususnya Kaum Depok, karena kekuatan utama kawasan ini ada pada living heritage-nya," jelasnya.
Ia menilai konsep Living Heritage Depok Lama memiliki keunikan yang sulit ditemukan di daerah lain. Keberadaan Kaum Depok yang masih mempertahankan identitas dan tradisi hingga saat ini menjadi aset budaya yang bernilai tinggi, tidak hanya bagi Kota Depok, tetapi juga Indonesia bahkan dunia.
"Ini bukan hanya unik di Depok, tetapi juga di Indonesia, bahkan di dunia. Keberadaan sebuah komunitas yang masih eksis selama ratusan tahun adalah sesuatu yang sangat istimewa," tegasnya.
Ratu Ratna menyebut Festival Heritage Depok Lama 2026 sebagai momentum bersejarah karena menjadi festival pertama yang digelar di kawasan tersebut dalam kurun waktu tiga abad.
"Ini adalah festival pertama dalam tiga abad. Bahkan bisa dikatakan pertama di Indonesia dengan konsep seperti ini. Ini menjadi tonggak penting," ungkapnya.
Melalui potensi sejarah dan budaya yang dimiliki, kawasan Depok Lama dinilai layak dikembangkan sebagai episentrum baru wisata sejarah berbasis living heritage tourism, di mana pengunjung tidak hanya melihat peninggalan sejarah, tetapi juga dapat merasakan langsung kehidupan budaya yang masih berlangsung.
"Depok Lama ini sangat layak menjadi pusat baru. Bukan hanya tempat wisata, tetapi ruang di mana sejarah itu hidup dan bisa dirasakan langsung," katanya.
Selain memperkuat identitas budaya, pengembangan kawasan juga diyakini akan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Berbagai peluang usaha baru seperti toko suvenir, kafe, restoran, hingga industri kreatif diproyeksikan tumbuh seiring meningkatnya kunjungan wisatawan.
"Ke depan akan muncul toko suvenir, kafe, restoran, hingga berbagai usaha baru. Ini akan meningkatkan perputaran ekonomi dan tentu berdampak pada kesejahteraan masyarakat serta pendapatan daerah," jelasnya.
Menurutnya, Festival Heritage Depok Lama menjadi pemicu terbentuknya ekosistem ekonomi kreatif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
"Ini bukan hanya untuk Kaum Depok, tapi untuk seluruh masyarakat. Kawasan ini akan menjadi ruang budaya sekaligus ruang ekonomi baru bagi Kota Depok," tambahnya.
Ia berharap semangat yang dibangun melalui festival ini dapat terus dijaga sehingga revitalisasi Depok Lama berlangsung secara berkelanjutan.
"Ini langkah awal yang sangat penting. Tinggal bagaimana kita menjaga konsistensi agar Depok Lama benar-benar menjadi kawasan yang hidup, berkarakter, dan membanggakan," tutupnya.

.png)


1.png)




LEAVE A REPLY