Home Ekonomi Kadin Bidik Perdagangan RI–Thailand Tembus Rp490 Triliun pada 2030, Ekonomi Halal Jadi Andalan

Kadin Bidik Perdagangan RI–Thailand Tembus Rp490 Triliun pada 2030, Ekonomi Halal Jadi Andalan

80
0
SHARE
Kadin Bidik Perdagangan RI–Thailand Tembus Rp490 Triliun pada 2030, Ekonomi Halal Jadi Andalan

Keterangan Gambar : Dok/Kadin Indonesia

Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama Thai Chamber of Commerce Indonesia (TCCI) memperkuat kemitraan ekonomi Indonesia dan Thailand melalui Indonesia-Thailand Business Forum yang digelar di Hotel Fairmont, Jakarta, Selasa (4/8). Forum bisnis tersebut menjadi momentum penting untuk mendorong peningkatan perdagangan bilateral hingga mencapai US$30 miliar pada 2030, sekaligus memperkuat kerja sama di sektor ekonomi halal, industri, jasa, hilirisasi, dan pangan.

Forum bertajuk "Advancing the Indonesia-Thailand Strategic Partnership: Building Integrated Value Chains in Industry, Services, and the Halal Economy" itu diselenggarakan bertepatan dengan kunjungan resmi Perdana Menteri Kerajaan Thailand, H.E. Anutin Charnvirakul, ke Indonesia.

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, mengatakan forum tersebut menjadi wadah strategis untuk mempererat kolaborasi dunia usaha kedua negara. Menurutnya, hubungan Indonesia dan Thailand telah terjalin selama berabad-abad melalui perdagangan maritim, pertukaran budaya, dan hubungan antarkerajaan, jauh sebelum terbentuknya ASEAN.

"Sejarah menunjukkan bahwa persahabatan Indonesia dan Thailand telah berlangsung selama berabad-abad. Kita saling bertukar barang, gagasan, dan tradisi," ujar Anindya.

Ia menilai kunjungan Perdana Menteri Thailand ke Indonesia yang pertama dalam 15 tahun terakhir menjadi tonggak penting untuk memperkuat kemitraan strategis kedua negara.

Sebagai dua kekuatan ekonomi terbesar di ASEAN, Indonesia dan Thailand memiliki populasi gabungan sekitar 357 juta jiwa dengan nilai ekonomi mendekati US$2 triliun. Saat ini nilai perdagangan bilateral mencapai sekitar US$17,5 miliar, dan Kadin optimistis target US$30 miliar pada 2030 dapat direalisasikan melalui peningkatan investasi dan kerja sama bisnis.

Anindya menambahkan, forum bisnis kali ini memprioritaskan kerja sama di sektor ekonomi halal, manufaktur, jasa, hilirisasi, serta penguatan rantai pasok regional. Menurutnya, kombinasi skala ekonomi Indonesia dengan keunggulan Thailand di sejumlah sektor akan menciptakan daya saing baru di tingkat global.

"Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia dan Thailand mampu bersaing, tetapi apakah kita bisa menjadi yang terbaik di dunia pada bidang tertentu. Saya percaya jawabannya adalah bisa," katanya.

Ia juga menyebut sektor pangan sebagai salah satu peluang terbesar. Thailand dikenal sebagai produsen beras melati dan buah tropis, sedangkan Indonesia memiliki sumber daya alam dan kapasitas produksi yang besar. Kolaborasi kedua negara diyakini mampu menghadirkan solusi ketahanan pangan tidak hanya bagi ASEAN, tetapi juga dunia.

Sementara itu, Perdana Menteri Thailand H.E. Anutin Charnvirakul menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia dan dunia usaha nasional atas komitmen mempererat hubungan ekonomi kedua negara.

Menurutnya, peluang peningkatan investasi, perdagangan, dan kerja sama bisnis masih sangat terbuka, dan Pemerintah Thailand siap mendukung seluruh upaya yang dilakukan pelaku usaha Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi sekaligus Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia, Hashim S. Djojohadikusumo, mengajak dunia usaha kedua negara memperkuat kolaborasi dalam menghadapi tantangan global seperti ketidakpastian geopolitik, kenaikan harga energi, hingga perubahan iklim.

"Kita berbagi tantangan yang sama. Karena itu, kolaborasi menjadi kunci agar mampu menghadapi berbagai guncangan eksternal," ujar Hashim.

Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso, mengatakan pemerintah akan mendorong peningkatan volume ekspor ke Thailand sekaligus memperluas diversifikasi produk. Ia menilai struktur perdagangan kedua negara bersifat saling melengkapi sehingga memiliki peluang besar untuk terus berkembang.

Ketua Board of Trade of Thailand, Poj Aramwattananont, juga menilai kerja sama yang lebih erat antara Kadin Indonesia dan Kamar Dagang Thailand akan memperkuat rantai nilai regional, membuka peluang investasi baru, serta mendorong pertumbuhan ekonomi ASEAN yang lebih berkelanjutan.

Dalam forum tersebut turut dilakukan pertukaran dua Nota Kesepahaman (MoU) yang disaksikan langsung oleh Perdana Menteri Thailand. MoU pertama mengatur kerja sama pengembangan pasar karbon antara Kadin Indonesia dan Board of Trade of Thailand, sementara MoU kedua membentuk Thailand Business Ecosystem-Indonesia (TBES-Indonesia) sebagai platform yang menghubungkan pelaku usaha, pemerintah, lembaga keuangan, akademisi, dan investor untuk memperkuat kerja sama perdagangan, investasi, ekonomi halal, inovasi, serta pengembangan sumber daya manusia.

Melalui berbagai kesepakatan tersebut, Indonesia dan Thailand menegaskan komitmennya membangun kemitraan ekonomi yang lebih erat dan menjadikan kedua negara sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru di kawasan ASEAN.

Iklan Sidebar Kiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here