Internasional — Kementerian Kesehatan Iran melaporkan sedikitnya 223 perempuan dan 202 anak-anak tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari 2026.
Dalam pernyataan yang disiarkan kantor berita Fars News Agency, korban jiwa tersebut termasuk tiga perempuan hamil serta 12 anak di bawah usia lima tahun. Kementerian juga mencatat sedikitnya 41 anak mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Menurut laporan yang dikutip dari Anadolu Agency, serangan AS–Israel juga menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur kesehatan Iran. Tercatat sebanyak 153 pusat layanan kesehatan di berbagai wilayah negara itu mengalami kerusakan.
Konflik meningkat sejak 28 Februari 2026 ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan terhadap Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sekitar 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan pesawat nirawak dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta sejumlah negara Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat. Dari pihak Israel dan AS, dilaporkan belasan orang tewas akibat serangan balasan tersebut.
Konflik juga meluas ke Lebanon. Militer Israel memperluas operasi militernya yang sejak 2 Maret telah menewaskan lebih dari 800 orang dan melukai lebih dari 2.000 lainnya di tengah meningkatnya serangan lintas batas dengan kelompok bersenjata Hezbollah.
Sementara itu, militer Israel menyatakan perang terhadap Iran diperkirakan masih akan berlangsung setidaknya tiga pekan ke depan. Hal tersebut disampaikan juru bicara militer Israel, Effie Defrin.
Dikutip dari CNN, Defrin mengatakan militer Israel telah menyiapkan ribuan target serangan dalam operasi tersebut.
“Kami memiliki ribuan target di depan,” kata Defrin. “Kami siap berkoordinasi dengan sekutu AS kami, dengan rencana setidaknya hingga hari raya Paskah Yahudi, sekitar tiga minggu dari sekarang. Kami bahkan memiliki rencana yang lebih mendalam setelah itu.”
Ia menambahkan bahwa operasi militer tersebut tidak berjalan berdasarkan jadwal waktu tertentu, melainkan berfokus pada pencapaian tujuan utama, yakni melemahkan rezim Iran secara signifikan.
Menurut Defrin, konflik kali ini juga mendorong Hezbollah untuk ikut terlibat secara langsung, berbeda dengan perang 12 hari pada musim panas tahun lalu ketika kelompok tersebut memilih tidak terlibat.
“Pada bulan Juni mereka memahami bahwa ini adalah kampanye terbatas di Iran, sehingga mereka tidak menyerang. Sekarang setelah semuanya terungkap, mereka ikut serta,” ujarnya. (sumber: arina.id)



.png)






.png)
LEAVE A REPLY