Home Hiburan Cinema Berbisik di Makassar: Saat Film Terlihat Lewat Kata untuk Disabilitas Netra

Cinema Berbisik di Makassar: Saat Film Terlihat Lewat Kata untuk Disabilitas Netra

91
0
SHARE
Cinema Berbisik di Makassar: Saat Film Terlihat Lewat Kata untuk Disabilitas Netra

Keterangan Gambar : Dok/Kemensos

MAKASSAR — Dunia sinema tak lagi sekadar soal visual. Bagi penyandang disabilitas sensorik netra, film adalah pengalaman rasa dan imajinasi yang dapat dihidupkan melalui kata-kata. Semangat inklusivitas itu dihadirkan dalam kegiatan bertajuk “Cinema Berbisik” yang digelar di BBPPKS Makassar, Kamis (30/4/2026).

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Kementerian Sosial RI melalui program Klinik Layanan Sosial Terpadu Bergerak (KLASTER) bersama mahasiswa Universitas Hasanuddin. Mengusung tema “Sentuhan Kata, Getaran Makna: Menembus Batas Dalam Dekapan Cinema Berbisik”, acara ini bertujuan menghadirkan pengalaman menonton yang setara bagi para penerima manfaat disabilitas netra melalui metode deskripsi audio personal.

Mahasiswa magang Universitas Hasanuddin dilibatkan secara aktif dalam kegiatan ini sebagai bagian dari inovasi pelayanan sosial yang berdampak langsung pada kesejahteraan penerima manfaat. Hadir pula dosen pembimbing Fakultas FISIPOL Unhas, guru SLB dari YUKARTUNI, serta jajaran pendidik dari SRMA 26 Makassar.

Yang membuat kegiatan ini semakin istimewa adalah keterlibatan siswa-siswi SRMA 26 Makassar sebagai pendamping sekaligus “pembisik”. Mereka berperan menerjemahkan visual dalam film menjadi narasi deskriptif—menggambarkan ekspresi tokoh, suasana, hingga detail adegan—sehingga dapat dinikmati oleh para peserta disabilitas netra.

Film yang diputar adalah Rumah Untuk Alie, sebuah karya yang sarat pesan moral tentang perjuangan dan harapan. Melalui bisikan narasi para siswa, setiap adegan terasa hidup. Suasana haru dan tawa pun mewarnai ruangan ketika cerita mampu menyentuh emosi para peserta.

Interaksi antara “pembisik” dan peserta menciptakan ikatan emosional yang hangat. Kata-kata menjadi jembatan yang menghubungkan cerita dengan hati, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk menikmati karya seni.

Kegiatan “Cinema Berbisik” menjadi wujud nyata implementasi nilai kemanusiaan dan inklusivitas. Inisiatif ini diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai ruang berbagi empati, di mana setiap orang—tanpa terkecuali—memiliki akses yang sama untuk merasakan keindahan cerita.

Iklan Sidebar Kiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here