Home Pendidikan Lawan Stigma Pengangguran, SMK Fornus Depok Cetak Entrepreneur Muda Sejak Kelas 10

Lawan Stigma Pengangguran, SMK Fornus Depok Cetak Entrepreneur Muda Sejak Kelas 10

Fokus cetak wirausahawan muda, siswa wajib jual produk sebelum lulus

44
0
SHARE
Lawan Stigma Pengangguran, SMK Fornus Depok Cetak Entrepreneur Muda Sejak Kelas 10

Keterangan Gambar : Dok/SMK Forward Nusantara

DEPOK — SMK Forward Nusantara (Fornus) Tapos, Kota Depok, membuat terobosan dalam dunia pendidikan vokasi. Di tengah stigma nasional bahwa lulusan SMK menjadi penyumbang angka pengangguran, sekolah ini justru fokus mencetak wirausahawan muda sejak dini.

Hal tersebut disampaikan Kepala SMK Forward Nusantara, Danan Wuryanto Pramono, dalam ajang Business Competition Arli Kurnia Award di sekolahnya, Jumat (13/02/2026).

Menurut Danan, isu sulitnya lulusan SMK terserap kerja memang menjadi perhatian nasional. Namun, ia menegaskan kondisi tersebut tidak terjadi di Fornus.

“Jujur, kalau di Fornus dari awal kami tidak punya pemikiran seperti itu. Rata-rata sebelum lulus, anak-anak sudah terikat kontrak kerja dengan perusahaan,” ujarnya.

Sistem pembelajaran di Fornus dirancang berbeda. Materi akademik dituntaskan lebih cepat, sehingga saat kelas 12 siswa dapat fokus menjalani magang hampir satu tahun penuh. Bahkan, tak sedikit siswa yang sudah direkrut perusahaan sebelum resmi lulus.

Danan juga menjelaskan, paradigma SMK kini bergeser dari konsep BMW (Bekerja, Melanjutkan, Wirausaha) menjadi BBM (Berwirausaha, Bekerja, Melanjutkan). Artinya, wirausaha menjadi prioritas utama.

Fornus pun tidak sekadar mendorong siswa berwirausaha, tetapi menyiapkan ekosistemnya. Selama tiga bulan pertama, siswa belajar langsung di inkubator bisnis di Jakarta. Mereka dibekali kemampuan live streaming, public speaking, hingga membangun personal branding.

Tiga bulan berikutnya, para siswa mendapatkan pendampingan langsung dari influencer entrepreneur Arli Kurnia.

“Bisnis yang dikembangkan itu masuk akal, modalnya kecil. Anak SMK kalau disuruh usaha modal besar dari mana? Yang kita mau, mereka punya kemampuan sendiri untuk bangun usaha,” jelas Danan.

Ia menekankan pentingnya membaca peluang pasar, terutama pada produk kebutuhan spesifik yang sering luput dari perhatian.

Menariknya, hampir seluruh siswa Fornus terserap program magang. Bahkan, pihak sekolah mengaku kewalahan memenuhi permintaan industri.

Ke depan, Fornus berencana menghadirkan dunia usaha langsung ke lingkungan sekolah. Saat ini, mereka telah memiliki sejumlah unit bisnis yang dikelola siswa, mulai dari toko roti, klinik kecantikan, jasa desain dan pengelolaan website (TKJ), hingga digital printing (DKV). Server dan sistem data sekolah pun merupakan karya siswa sendiri.

“Target kami, tiga bulan ke depan semuanya sudah running penuh,” ungkap Danan.

Yang paling unik, siswa tidak cukup hanya membuat business plan atau produk contoh. Mereka wajib membuktikan mampu menjual produknya.

“Keberhasilan itu saat mereka bisa jualan. Itu syarat wajib,” tegasnya.

Iklan Sidebar Kiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here