
Keterangan Gambar : Dok. Kemenag.go.id
KAIRO (Kemenag) — Paviliun Indonesia menampilkan kekayaan budaya dan khazanah keislaman Nusantara dalam ajang Cairo International Book Fair (CIBF) ke-57 yang digelar di Kairo, Mesir. Kehadiran Paviliun Indonesia berhasil menarik perhatian pengunjung dari berbagai negara, dengan jumlah kunjungan mencapai lebih dari seribu orang setiap hari.
Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Lubenah Amir, mengatakan bahwa partisipasi Indonesia dalam pameran buku internasional ini menjadi sarana strategis untuk memperkenalkan wajah Islam Indonesia yang moderat, inklusif, dan berakar kuat pada tradisi.
“Paviliun Indonesia tidak hanya menampilkan buku, tetapi juga memperkenalkan budaya, nilai-nilai Islam wasathiyah, serta kontribusi ulama Nusantara dalam peradaban Islam dunia,” ujar Lubenah di Kairo, Selasa (3/2/2026).
Cairo International Book Fair ke-57 berlangsung pada 21 Januari hingga 3 Februari 2026. Pembukaan pameran dilaksanakan pada 21 Januari 2026 dan dihadiri sejumlah tokoh dari Mesir maupun negara lain. Sementara itu, Paviliun Indonesia resmi dibuka untuk umum pada 22 Januari 2026 oleh Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Republik Indonesia untuk Mesir.
Paviliun Indonesia berlokasi di Hall 1 B56+, berdampingan dengan sejumlah penerbit buku ternama Mesir. Lokasi strategis tersebut memudahkan pengunjung untuk mengakses dan berinteraksi langsung dengan berbagai konten yang ditampilkan.
Salah satu daya tarik utama paviliun adalah kehadiran para volunteer yang mengenakan busana adat Nusantara. Melalui kerja sama Kementerian Agama dengan Perhimpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir, ditampilkan beragam busana tradisional dari Aceh, Melayu, Palembang, Jambi, Sulawesi, Riau, hingga Jawa. Penampilan tersebut menarik minat pengunjung lokal dan internasional untuk berfoto sekaligus berdialog mengenai budaya Indonesia.
Selain menampilkan kekayaan budaya, Paviliun Indonesia juga mengangkat tema ekoteologi, yakni relasi antara agama dan kepedulian terhadap lingkungan. Berbagai publikasi Kementerian Agama turut dipamerkan, di antaranya Ekoteologi Islam dan Tafsir Gender.
Lubenah menuturkan, salah satu fitur paling ikonik di Paviliun Indonesia adalah mushaf Al-Qur’an bahasa isyarat. Fitur ini memungkinkan pengunjung menyaksikan langsung demonstrasi penggunaan Al-Qur’an bagi komunitas tuli.
“Banyak pengunjung yang antusias mempelajari Al-Qur’an bahasa isyarat karena ini merupakan yang pertama di dunia. Hal ini menunjukkan kepedulian Indonesia yang sangat kuat terhadap inklusivitas layanan keagamaan,” jelasnya.
Paviliun Indonesia juga menampilkan karya-karya ulama Nusantara dalam bahasa Arab dan Arab Pegon, dengan latar bahasa Indonesia, Melayu, dan Sunda. Demonstrasi kaligrafi serta pembagian buku gratis dari Kementerian Agama semakin menambah antusiasme pengunjung.
Menurut Lubenah, keikutsertaan Indonesia dalam CIBF merupakan tindak lanjut dari Pernyataan Bersama tentang Kemitraan Strategis antara Pemerintah Republik Indonesia dan Republik Arab Mesir yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Abdel Fattah El-Sisi pada 12 April 2025.
“Kerja sama ini menegaskan pentingnya implementasi nilai-nilai Islam wasathiyah yang menjadi ciri khas kehidupan beragama di Indonesia,” ujarnya.
Melalui partisipasi aktif dalam ajang internasional tersebut, Kementerian Agama berharap Indonesia semakin dikenal sebagai rujukan Islam moderat dunia yang mampu menjembatani tradisi, budaya, dan peradaban global. (Sumber: Kemenag.go.id/Mr)









.png)
.png)
.png)
LEAVE A REPLY