
Keterangan Gambar : Ahmad Zaki
Oleh: Ahmad Zaki (Pengurus HMI Cabang Banjarmasin 2008-2010)
Opini - Sejarah mencatat bahwa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) didirikan bukan sekadar sebagai wadah berhimpun kaum terpelajar muslim, melainkan sebagai kawah candradimuka yang melahirkan regenerasi kepemimpinan bangsa. Nilai dasar perjuangan dan falsafah yang tertuang dalam Anggaran Dasar serta Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) HMI dirancang sedemikian rupa agar organisasi ini senantiasa berdiri sebagai moral force dan agent of change. Namun, jika kita mengamati dinamika gerak dan nafas HMI hari ini, dari tingkat Pengurus Cabang hingga jajaran Pengurus Besar (PB HMI), sebuah kenyataan pahit menyeruak ke permukaan: HMI sedang mengalami degradasi daya kritis yang amat akut, bahkan berada dalam fase mati suri yang mengkhawatirkan.
Indikasi paling mendasar dari kebangkrutan intelektual dan daya kritis ini terlihat jelas pada sikap diam seribu bahasa yang ditunjukkan oleh pengurus di berbagai tingkatan. Di tengah gelombang problematika politik kebangsaan, krisis ekologi, pembajakan demokrasi, hingga pergeseran nilai kepemimpinan nasional yang semakin jauh dari cita-cita reformasi, HMI yang dulu dikenal sebagai panglima pergerakan mahasiswa kini justru kehilangan taringnya. Tidak ada respon substantif, tidak ada kajian kritis yang tajam, dan sama sekali tidak ada keberanian untuk mengeluarkan pernyataan sikap yang membela kepentingan publik. Keheningan ini bukan lagi cerminan dari kecermatan berhitung politik, melainkan wujud dari kelumpuhan nalar kritis dan sikap ketakutan yang sengaja dipelihara.
Kondisi bisu dan apatis ini jelas membentur pilar fundamental organisasi, yaitu Indikasi dan Tafsir Independensi HMI. Dalam doktrin independensi, HMI ditegaskan sebagai organisasi yang tidak memihak kepada kelompok kepentingan mana pun, bebas dari intervensi kekuasaan, dan senantiasa berpihak pada kebenaran obyektif demi kemaslahatan publik. Independensi etis dan organisatoris ini seharusnya menjadi benteng pertahanan terakhir agar para fungsionaris PB HMI maupun pengurus cabang tidak terjebak dalam kungkungan belenggu pragmatisme yang mengebiri daya kritis. Sangat disayangkan, fakta di lapangan justru menunjukkan kecenderungan sebaliknya: pengurus organisasi seakan terpasung oleh rasa nyaman dekat dengan lingkaran kekuasaan, tersandera oleh patronase politik oligarki, serta lebih memilih bermain aman demi mengamankan karir politik pribadi atau akses insentif pasca-ber-HMI.
Akibat dari tersanderanya independensi tersebut, energi besar organisasi yang seharusnya didedikasikan untuk mengawal dinamika kebangsaan justru habis terkuras hanya untuk mengurus perhelatan internal. Dinamika persidangan, perebutan tampuk kepemimpinan, hingga kalkulasi faksi internal dalam kongres atau musyawarah cabang kini menjadi pusat semesta para kader. Diskusi-diskusi di sekretariat tidak lagi membedah arah kebijakan publik atau epistemologi pergerakan, melainkan dipenuhi dengan taktik penggalangan suara, negoisasi transaksi transaksional, dan politik dagang sapi. Kepentingan sesaat dan dorongan pragmatis pribadi telah menggeser secara total kesadaran kolektif untuk memikirkan kemaslahatan Umat dan Bangsa.
Kondisi yang menyedihkan ini secara langsung memutus mata rantai pelaksanaan Pasal 5 dan 6 AD ART HMI yang menekankan fungsi dan peran organisasi sebagai wadah pembinaan serta perjuangan mahasiswa. Terlebih lagi, fenomena ini menghianati rumusan Tujuan HMI sebagaimana tertuang dalam Pasal 4, yakni terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu Wata'ala. Bagaimana mungkin seorang kader mampu menuntaskan tanggung jawab mewujudkan masyarakat adil makmur jika nalar akademisnya tumpul, daya ciptanya mati, dan jiwa pengabdiannya larut dalam godaan kekuasaan? Ketika nilai Islam hanya dijadikan atribut simbolis tanpa diinternalisasikan sebagai spirit perlawanan terhadap ketidakadilan, maka cita-cita luhur pendiri HMI, Lafran Pane, telah diamputasi oleh para penerusnya sendiri.
Melihat potret buram pergerakan hari ini, ingatan sejarah kita secara otomatis tertuju pada karya fenomenal sejarawan legendaris HMI, Prof. Agussalim Sitompul, yang merumuskan 44 indikator kemunduran HMI. Pada masanya, analisis beliau mungkin dianggap sebagai peringatan dini atau kritik destruktif-konstruktif bagi eksistensi himpunan. Namun hari ini, tesis Prof. Agussalim Sitompul tidak lagi sekadar menjadi variabel teoretis, melainkan realitas objektif yang telah terjadi secara menyeluruh. Bahkan, jika kita membedah realitas sosio-organisatoris saat ini, indikator kemunduran HMI tidak lagi terbatas pada angka 44, melainkan telah melampaui lebih dari 50 indikator kemunduran baru. Penambahan indikator ini mencakup komodifikasi organisasi, kompromi ideologis terhadap korupsi sistemik, krisis kepemimpinan berbasis literasi, hilangnya kepekaan sosial di tingkat akar rumput, hingga alienasi kader dari realitas penderitaan rakyat.
Kemunduran ini merupakan sinyal bahaya yang nyata bagi keberlanjutan tradisi intelektualisme Islam di Indonesia. Jika para pengurus dan kader HMI terus membiarkan diri terlelap dalam tidur panjang pragmatisme, membiarkan struktural PB HMI tunduk pada dikte penguasa, serta membiarkan pengurus cabang apatis terhadap penindasan di wilayahnya masing-masing, maka sejarah akan mencatat HMI bukan lagi sebagai kawah candradimuka pemuda, melainkan sebagai museum fosil pergerakan.
Oleh karena itu, kesadaran kritis ini harus segera ditiupkan kembali sebagai angin pembaharuan. Sudah saatnya seluruh elemen organisasi, dari komisariat hingga tingkat pusat, melakukan otokritik yang mendalam dan radikal. Keberanian untuk melepaskan diri dari belenggu kepentingan jangka pendek harus dihidupkan kembali di setiap dada kader hijau hitam. HMI harus mengembalikan khittah perjuangannya sebagai benteng independensi yang berani bersuara lantang menentang kesewenang-wenangan dan konsisten memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Bangkitlah wahai kader Hijau Hitam, gugurkan segala kalkulasi pragmatis yang membelenggu pikiranmu, kembalikan marwah intelektual dan spirit pengabdianmu, dan jangan biarkan organisasi besar yang dibasahi oleh doa para ulama dan pendiri bangsa ini mati suri di tangan generasi yang kehilangan daya kritisnya.







LEAVE A REPLY