Home Seni & Budaya Menteri Kebudayaan Bahas Potensi Kerja Sama Budaya dengan Kedubes AS

Menteri Kebudayaan Bahas Potensi Kerja Sama Budaya dengan Kedubes AS

19
0
SHARE
Menteri Kebudayaan Bahas Potensi Kerja Sama Budaya dengan Kedubes AS

Keterangan Gambar : (Dok : Kementerian Kebudayaan)

Jakarta - Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menggelar dialog strategis bersama Charge d’Affaires Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Peter M. Haymond, di Gedung Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta (12/1/2026). Pertemuan tersebut membahas penguatan ekosistem budaya nasional serta peluang kerja sama kebudayaan antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Dalam pertemuan itu, Menteri Kebudayaan menegaskan komitmen pemerintah Indonesia dalam pelestarian dan penguatan ekosistem budaya, khususnya di sektor permuseuman. Upaya tersebut tidak hanya bertujuan memperkuat identitas nasional, tetapi juga menjadikan museum sebagai etalase budaya Indonesia yang representatif di mata dunia.

Dikutip dari laman resmi Kementerian Kebudayaan “Melalui Kementerian Kebudayaan, kami telah melakukan berbagai upaya intensif untuk mengembalikan benda cagar budaya dari luar negeri. Sejumlah artefak telah kembali dari Belanda, seperti fosil Pithecanthropus yang dibawa oleh Eugene Dubois. Selain itu, kami juga merevitalisasi sejumlah museum agar mampu merepresentasikan kekayaan budaya Indonesia,” ujar Fadli Zon.

Lebih lanjut, Fadli mengungkapkan bahwa Kementerian Kebudayaan telah menggagas kerja sama dengan sejumlah museum ternama di Amerika Serikat. Salah satu bentuk konkret kerja sama tersebut adalah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Smithsonian National Museum of Natural History.
“Kami telah menjalin nota kesepahaman dengan Smithsonian National Museum of Natural History. Kerja sama ini juga melibatkan Museum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan, serta museum lain di Amerika Serikat seperti The Metropolitan Museum of Art, untuk pameran karya budaya, seni, dan kolaborasi para pelaku budaya,” jelasnya.

Selain sektor permuseuman, Menteri Kebudayaan juga mendorong penguatan diplomasi budaya melalui budaya populer, khususnya di bidang film dan seni pertunjukan. Menurutnya, perkembangan ekosistem seni pertunjukan dan film Indonesia saat ini membuka peluang besar untuk kolaborasi internasional.
“Bidang seni pertunjukan Indonesia berkembang cukup pesat, dengan adanya pelaku musikal yang tampil di luar negeri, termasuk di kawasan West End. Begitu pula dengan industri film nasional yang semakin positif. Ke depan, pengambilan film-film Hollywood bisa dilakukan di Indonesia, sebagaimana film Eat, Pray, Love yang mengambil lokasi di Bali,” tutur Fadli.

Sementara itu, Peter M. Haymond menyambut baik potensi kerja sama kebudayaan antara kedua negara. Ia menyampaikan bahwa Amerika Serikat memiliki sejumlah program yang dirancang untuk menghormati dan melestarikan budaya lokal mitra kerja samanya.
“Kami memiliki program dokumentasi dan digitalisasi bahasa lokal yang bertujuan membangun sistem katalogisasi digital. Program ini dapat menjadi salah satu bentuk kerja sama dengan Indonesia,” ungkap Haymond.

Dialog tersebut turut dihadiri oleh Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti, serta Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga Ismunandar.

Menutup pertemuan, Menteri Kebudayaan berharap dukungan Kedutaan Besar Amerika Serikat dalam pengembangan budaya populer Indonesia di tingkat global.
“Di era modern, budaya lokal dapat dikaitkan dengan budaya pop. Indonesia memiliki banyak talenta yang telah mendunia, seperti Agnes Monica, Rich Brian, Joey Alexander, dan NIKI. Ke depan, kita bisa memperkuat kerja sama untuk memajukan budaya kedua negara,” pungkas Fadli Zon.

 

(dfs)

Iklan Sidebar Kiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here