Home Seni & Budaya Gereja di Kediri Ini Jadi Simbol Hangatnya Toleransi di Musim Mudik

Gereja di Kediri Ini Jadi Simbol Hangatnya Toleransi di Musim Mudik

15
0
SHARE
Gereja di Kediri Ini Jadi Simbol Hangatnya Toleransi di Musim Mudik

Keterangan Gambar : Dok/Kemenag

Kediri – Di tengah padatnya arus mudik yang nyaris tak pernah berhenti, sebuah ruang teduh hadir bagi para pelintas jalan. Bukan rest area besar atau fasilitas mewah, melainkan halaman sebuah gereja yang membuka diri untuk siapa saja.

Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Purwosari di jalur mudik Kediri menjadi salah satu titik singgah yang menghadirkan kehangatan tersebut. Melalui program “Gereja Peduli Pemudik”, gereja ini membuka layanan bagi para pemudik selama periode 18 hingga 22 Maret 2026.

Tak sekadar menjadi tempat ibadah, gereja ini menjelma sebagai ruang istirahat yang ramah bagi siapa saja. Para pemudik yang singgah disambut tanpa pertanyaan—tak peduli asal, tujuan, maupun latar belakang agama.

Senyum hangat, minuman seperti teh dan kopi, serta camilan sederhana menjadi suguhan awal. Selain itu, tersedia pula area istirahat yang nyaman hingga ruang khusus untuk salat bagi pemudik Muslim.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Kementerian Agama Republik Indonesia melalui gerakan “Rumah Ibadah Ramah Pemudik”, yang mendorong rumah ibadah di seluruh Indonesia untuk menjadi tempat singgah yang aman dan terbuka selama musim mudik.

Di GKJW Jemaat Purwosari, pelayanan dilakukan bersama para penyuluh Kristen dari Kabupaten Trenggalek. Mereka bergantian berjaga untuk memastikan setiap pemudik merasa diperhatikan, bukan sekadar dilayani.

“Ini adalah bentuk kasih yang sederhana, tapi kami percaya bisa berarti besar bagi mereka yang sedang dalam perjalanan,” ujar Rini Sulistyowati, salah satu penyuluh Kristen yang terlibat, Rabu (18/3/2026).

Bagi para pemudik, keberadaan tempat seperti ini bukan hanya soal melepas lelah. Lebih dari itu, ia menjadi ruang jeda—tempat untuk menarik napas, menenangkan diri, dan mengisi kembali energi sebelum melanjutkan perjalanan panjang.

Kehadiran GKJW Jemaat Purwosari di jalur mudik Kediri juga menghadirkan potret Indonesia yang hangat—tentang kemanusiaan yang melampaui sekat perbedaan. Di sana, perbedaan bukan menjadi penghalang, melainkan jembatan yang menghubungkan.

Inisiatif ini sekaligus menjadi wujud nyata dari semangat moderasi beragama. Bahwa rumah ibadah bukan hanya tempat mendekat kepada Tuhan, tetapi juga ruang untuk menghadirkan kasih kepada sesama.

Di ujung perjalanan yang melelahkan, gereja itu tak hanya berdiri sebagai bangunan. Ia hadir sebagai pelukan—yang mengingatkan bahwa, pada akhirnya, kita semua adalah saudara.

Iklan Sidebar Kiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here