JAKARTA – Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Gus Hery Haryanto Azumi, melanjutkan rangkaian silaturahim kepada para masyayikh dan tokoh sepuh Nahdlatul Ulama menjelang Muktamar NU ke-35. Pada Kamis (25/6/2026) malam, Gus Hery bersama rombongan mengunjungi kediaman Ketua Umum PBNU periode 2010–2021, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, di Ciganjur, Jakarta Selatan.
Silaturahim berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Pertemuan tersebut membahas masa depan Nahdlatul Ulama, tantangan kepemimpinan pada abad kedua NU, serta pentingnya menjaga persatuan warga nahdliyin menjelang Muktamar ke-35.
Turut hadir dalam pertemuan itu KH. Taufik Rachman Abdul Syakur, pendiri sekaligus mantan Sekretaris Jenderal dan Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Alumni Penerima Beasiswa Super Semar (KMAPBS) periode 1986–2002. Rombongan Gus Hery dipimpin Koordinator Tim Dr. H. Fadli Yasir, MA, didampingi Dr. Eng. Akhmad Khusyaeri, MT, Coach A. Syarief C., SE, QWP, CPC, Syaiful Anwar, SE, dan Dr. Waki Ats Tsaqofi.
Dalam kesempatan tersebut, KH. Said Aqil Siroj menyampaikan doa dan restu atas ikhtiar Gus Hery yang menyatakan kesiapan maju dalam kontestasi Ketua Umum PBNU. Menurutnya, setiap kader NU yang memiliki niat tulus untuk berkhidmat kepada jam'iyah patut diberi kesempatan mengabdikan kemampuan terbaiknya.
"Semoga Allah SWT memberikan jalan terbaik. Jika memang Allah mentakdirkan amanah kepemimpinan itu kepada Gus Hery, semoga diberikan kemudahan, kekuatan, dan keistiqamahan untuk memimpin NU dengan penuh keikhlasan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab," doa KH. Said.
KH. Said menilai Gus Hery memiliki bekal sebagai santri dan kader NU yang telah lama aktif dalam berbagai kegiatan organisasi serta pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, pemimpin NU harus memiliki keikhlasan berkhidmat, menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, mampu merangkul seluruh elemen jam'iyah, serta memiliki pengalaman organisasi dan kemampuan menjawab tantangan zaman.
Turut hadir pula Ketua MUI Bidang Dakwah KH. Abdul Manan Ghani yang juga menjabat sebagai salah satu Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Pusat dan pernah menjadi Ketua PBNU pada masa kepemimpinan KH. Said Aqil Siroj.
KH. Abdul Manan Ghani mengapresiasi keberanian Gus Hery mengikuti kontestasi Ketua Umum PBNU. Menurutnya, regenerasi kepemimpinan merupakan keniscayaan agar NU tetap menjadi organisasi yang dinamis dan mampu menjawab perkembangan zaman.
"Muktamar bukan sekadar memilih seorang ketua, tetapi menentukan arah masa depan NU. Semakin banyak kader terbaik yang siap memikul amanah, semakin sehat proses kaderisasi di tubuh jam'iyah," ujarnya.
Ia juga menilai Gus Hery memiliki pengalaman organisasi, jejaring yang luas, serta kepedulian terhadap penguatan pesantren, pendidikan, dan pemberdayaan umat. Namun, ia menegaskan bahwa kepentingan NU dan umat harus selalu ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
KH. Abdul Manan Ghani mengajak seluruh warga nahdliyin menjadikan Muktamar NU ke-35 sebagai momentum memperkuat ukhuwah.
"Kontestasi boleh berlangsung, tetapi persaudaraan harus tetap menjadi fondasi utama. Jangan sampai perbedaan pilihan mengurangi semangat khidmah kita kepada Nahdlatul Ulama," katanya.
Sementara itu, KH. Taufik Rachman Abdul Syakur mengingatkan agar kontestasi kepemimpinan dipahami sebagai jalan pengabdian, bukan sekadar kompetisi organisasi.
"Berjuanglah untuk NU dan umat dengan hati yang bersih. Jika niatnya benar-benar untuk kemaslahatan jam'iyah, insya Allah akan selalu ada pertolongan Allah dan dukungan dari para ulama serta warga nahdliyin," pesannya.
Menanggapi doa dan nasihat tersebut, Gus Hery menyampaikan rasa syukur atas kesempatan bersilaturahim dengan para ulama. Ia menegaskan bahwa tujuan utama kunjungannya adalah memohon doa, nasihat, dan keberkahan.
"Saya datang bukan sekadar memohon dukungan, tetapi memohon doa, nasihat, dan keberkahan dari para masyayikh. Apa pun hasil Muktamar nanti, yang terpenting bagi saya adalah tetap dapat mengabdi kepada NU dengan penuh keikhlasan," ujar Gus Hery.
Silaturahim ditutup dengan doa bersama agar Muktamar NU ke-35 berlangsung damai, memperkuat ukhuwah warga nahdliyin, dan menghasilkan kepemimpinan terbaik bagi Nahdlatul Ulama.




1.png)





LEAVE A REPLY