Home Kesehatan Pesantren Kilat ImmuniBooster: Kemenag–UNICEF Perkuat Literasi Imunisasi Santri

Pesantren Kilat ImmuniBooster: Kemenag–UNICEF Perkuat Literasi Imunisasi Santri

Digelar di Bogor, 40 santri dari empat pesantren dibekali pemahaman imunisasi berbasis nilai Islam, literasi digital, dan ketahanan terhadap hoaks kesehatan.

20
0
SHARE
Pesantren Kilat ImmuniBooster: Kemenag–UNICEF Perkuat Literasi Imunisasi Santri

Keterangan Gambar : Dok/Kemenag

Bogor — Kementerian Agama Republik Indonesia bekerja sama dengan UNICEF Indonesia menyelenggarakan Pesantren Kilat ImmuniBooster Workshop pada 24–26 Februari 2026 di Bogor. Program ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat literasi kesehatan, ketahanan terhadap misinformasi, serta meningkatkan kesadaran imunisasi di kalangan santri dan santriwati.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya jumlah anak yang belum memperoleh imunisasi dasar lengkap di Indonesia, sehingga berisiko terhadap penyakit menular yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin. Di sisi lain, derasnya arus misinformasi di ruang digital turut memengaruhi persepsi masyarakat terhadap imunisasi, termasuk di lingkungan keluarga dan komunitas pendidikan keagamaan.

Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, menegaskan bahwa pesantren memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Dengan jumlah pesantren yang mencapai puluhan ribu dan jutaan santri di seluruh Indonesia, penguatan literasi kesehatan berbasis nilai keislaman dinilai sangat penting.

“Pendekatan ini mengontekstualisasikan imunisasi sebagai bentuk ikhtiar preventif untuk mencegah kemudaratan, sejalan dengan maqashid al-syari’ah dalam menjaga jiwa (hifz al-nafs),” tegas Basnang Said di Bogor, Selasa (24/02/2026).

Senada dengan itu, Kasubdit Pendidikan Salafiyah dan Kajian Kitab Kuning, Yusi Damayanti, menyampaikan bahwa kolaborasi Direktorat Pesantren dan UNICEF merupakan bagian dari ikhtiar bersama dalam menjaga kesehatan generasi bangsa.

“Dalam perspektif Islam, menjaga kesehatan adalah bagian dari amanah yang harus diupayakan melalui ilmu, tabayun, dan ikhtiar yang maksimal,” ujarnya.

Sebagai bagian dari penguatan perspektif keislaman, Kementerian Agama menghadirkan dosen UIN Cirebon sekaligus pengkaji Kitab Kuning, Sofi Mubarok. Dalam paparannya, Sofi menelaah pandangan ulama klasik serta fatwa-fatwa internasional terkait pentingnya imunisasi dalam kerangka fikih pencegahan.

Ia menjelaskan bahwa dalam khazanah turats dan kajian ushul fikih dikenal kaidah “dar’ al-mafasid muqaddam ‘ala jalb al-masalih” (mencegah kerusakan didahulukan daripada menarik kemaslahatan). Menurutnya, imunisasi dapat dipahami sebagai bentuk ikhtiar ilmiah yang sejalan dengan prinsip tersebut, karena bertujuan mencegah penyakit berbahaya sebelum terjadi wabah.

Workshop ini dirancang secara partisipatif dengan melibatkan 40 santri berusia 15–18 tahun dari empat pesantren, didampingi guru atau wali asrama. Para peserta diajak menggali persepsi, mengidentifikasi mitos dan miskonsepsi seputar imunisasi, serta mendiskusikan pengalaman mereka terkait kesehatan di lingkungan pesantren dan keluarga.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mengikuti rangkaian kegiatan edukatif yang meliputi pengantar hak kesehatan anak, pemahaman dasar imunisasi, sesi identifikasi hoaks dan misinformasi, hingga penyusunan rencana aksi berbasis komunitas santri. Pendekatan ini mengintegrasikan perspektif kesehatan publik dengan nilai-nilai Islam seperti ikhtiar, ilmu, dan tawakal agar pesan kesehatan lebih mudah diterima dan relevan dengan kultur pesantren.

UNICEF Indonesia menyampaikan bahwa anak muda, termasuk santri, merupakan kelompok strategis dalam ekosistem digital yang memiliki potensi besar sebagai penyebar pesan positif terkait kesehatan. Karena itu, pembekalan kemampuan literasi informasi dan verifikasi fakta menjadi bagian penting guna membangun ketahanan terhadap disinformasi di media sosial.

Sebagai luaran kegiatan, hasil diskusi santri mengenai mitos dan fakta seputar kesehatan dan imunisasi akan dikurasi menjadi buku saku atau cheat sheet yang sederhana, kontekstual, dan mudah dipahami untuk digunakan di lingkungan pesantren. Dokumen ini diharapkan menjadi bahan edukasi berkelanjutan dalam memperkuat advokasi kesehatan berbasis komunitas keagamaan.

Melalui sinergi Kementerian Agama, UNICEF, dan para pemangku kepentingan, Pesantren Kilat ImmuniBooster diharapkan mampu memperkuat peran pesantren sebagai pusat edukasi kesehatan yang responsif terhadap tantangan zaman, sekaligus mendorong lahirnya generasi santri yang sehat, kritis terhadap informasi, dan berdaya dalam menjaga kesehatan diri serta komunitasnya.

Iklan Sidebar Kiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here