
Keterangan Gambar : Dok/Kemenag
JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) memperluas akses pendidikan internasional bagi mahasiswa dan lulusan lembaga pendidikan keagamaan melalui penjajakan kerja sama dengan Tomsk State University (TSU), Rusia.
Kerja sama tersebut mencakup bidang pendidikan dan penelitian, sekaligus membuka peluang bagi mahasiswa berprestasi dari madrasah, pesantren, dan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) untuk melanjutkan studi di Rusia.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan komitmen tersebut saat menerima audiensi Wakil Rektor Bidang Hubungan Internasional TSU, Artem Yurykun, di Jakarta, Rabu (16/9/2026).
“Kemenag turut mengurus masalah pendidikan ini secara serius, termasuk memfasilitasi pembiayaan bagi mahasiswa berprestasi. Salah satunya kami wujudkan melalui program Bantuan Pendanaan Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB),” ujar Nasaruddin.
Menag mengatakan, Kemenag menaungi basis peserta didik yang besar, mulai dari siswa madrasah, santri hingga alumni pondok pesantren. Menurutnya, potensi akademik para peserta didik tersebut perlu didukung melalui akses pendidikan berkualitas di tingkat internasional.
“Potensi akademik anak-anak kita luar biasa. Kemenag sendiri menaungi basis peserta didik yang sangat besar, mulai dari jutaan siswa madrasah, santri, hingga para alumni pondok pesantren,” ungkapnya.
Wakil Rektor TSU Artem Yurykun menjelaskan, universitas yang berlokasi di Kota Tomsk tersebut memiliki kekuatan di bidang sains dan teknologi serta didukung 12 lembaga riset independen.
TSU juga menawarkan peluang kolaborasi penelitian, termasuk pengembangan teknologi pelapisan antibakteri untuk konstruksi kelautan, rumah sakit, dan material medis.
“Kami memiliki Fakultas Sains dan Teknologi yang sangat komprehensif,” kata Artem.
Dalam pertemuan tersebut, Artem menyampaikan peluang pembiayaan studi melalui program beasiswa pemerintah Federasi Rusia.
Saat ini, Rusia menyediakan kuota 300 beasiswa bagi mahasiswa Indonesia. TSU berencana mendorong peningkatan kuota tersebut menjadi sedikitnya 350 beasiswa.
Beasiswa tersebut mencakup biaya kuliah penuh (tuition fee). Mahasiswa juga akan memperoleh uang saku bulanan sekitar 60 dolar AS.
Artem menjelaskan, biaya akomodasi di Tomsk relatif terjangkau. Asrama dengan sistem kamar bersama diperkirakan membutuhkan biaya sekitar 15 hingga 20 dolar AS per bulan, sedangkan biaya hidup secara keseluruhan berada di kisaran 200 dolar AS per bulan.
Ia juga mengusulkan skema pendanaan bersama (co-funding) antara pemerintah Rusia dan Kemenag. Dalam skema tersebut, pemerintah Rusia menanggung biaya kuliah, sementara Kemenag memberikan dukungan finansial untuk kebutuhan hidup mahasiswa.
Selain peluang pendidikan, Artem memperkenalkan Tomsk sebagai kota yang memiliki fasilitas ibadah bagi mahasiswa Muslim.
Menurutnya, terdapat dua masjid yang berlokasi di sekitar kampus TSU. Salah satunya dapat ditempuh sekitar 15 menit berjalan kaki, sedangkan masjid lainnya berjarak sekitar 25 menit.
Artem juga menyampaikan bahwa kehidupan masyarakat di Tomsk berlangsung dalam keberagaman agama dan budaya.
“Kota ini sangat aman, ramah pelajar, dan seperti yang selalu dikatakan oleh para mahasiswa kami dari Indonesia, Tomsk ini sangat Muslim-friendly,” ujarnya.
Menanggapi peluang tersebut, Nasaruddin Umar menyatakan kesiapan Kemenag untuk menindaklanjuti penjajakan kerja sama dengan TSU.
“Kami berkomitmen untuk dapat menindaklanjuti peluang ini. Dalam waktu dekat, baik tahun ini maupun tahun depan, Kemenag siap mematangkan persiapan untuk mengirimkan mahasiswa terbaik ke TSU,” tegasnya.
Nasaruddin juga berharap kerja sama pendidikan dan penelitian tidak hanya terbatas pada satu perguruan tinggi keagamaan.
Sebelumnya, UIN Raden Intan Lampung telah menjalin kerja sama dengan TSU sejak 2025, khususnya dalam pengembangan sains dan teknologi.
“Kami berharap kerja sama ini bisa diperluas ke Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) lainnya, tidak hanya berhenti di UIN Lampung saja,” tandasnya.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperluas kesempatan mahasiswa Indonesia, khususnya dari lingkungan pendidikan keagamaan, untuk mengakses pendidikan tinggi dan riset bertaraf internasional.

.png)








LEAVE A REPLY